Nama : Umi Zakiatun Nafis
TTL : Kudus, 23
November 1999
Riwayat Pendidikan : TK Pertiwi Cranggang
SD N 4 Cranggang
MTs NU Darul Anwar
MA NU Miftahul Falah
Motto : Merangkai suatu hal
yang sederhana menjadi luar biasa
Gelar
Pahlawan Masih Diragukan
Guru dalam filosofi jawa berarti ”digugu lan ditiru”. Seorang guru
merupakan sosok yang harus ‘digugu’ artinya dipatuhi atau didengar dan ‘ditiru’
yang berarti patut dicontoh atau diteladani. Peranan yang sangat
penting dan merupakan unsur pembentuk pada setiap lembaga pendidikan. Guru
tidak hanya seorang yang luas ilmu pengetahuanya dan mengajar dalam ruang pembelajaran.
Guru bisa diartikan sebagai orang yang mengajarkan segala sesuatu meskipun itu
hanya satu huruf. Pengalaman bermanfaat yang mampu mengajari diri kita menjadi lebih baik juga dapat disebut
sebagai guru.
Profesi seorang guru, terutama di masyarakat desa termasuk
profesi yang dihormati. Guru menduduki strata sosial yang tinggi, bahkan ketika
telah pensiun. Ia dianggap sebagai sosok yang serba tahu dan menjadi tempat
bertanya warga. Guru juga dinilai sebagai sosok yang berakhlak mulia, bahkan
kerap disejajarkan dengan ustadz. Selain berbagai atribut diatas, guru juga
dinilai berperan penting dalam mencerdaskan putra-putri bangsa ini. Tanpa guru,
tak akan ada kemajuan bangsa ini. Maka, guru pun dianugerahi gelar sebagai
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang spesial, gelar yang hebat, gelar bukan
sembarang gelar yang bisa diraih oleh profesi lainnya.
Problematika
Dunia Pendidikan
Namun, apakah semua guru layak dan pantas menyandang
gelar mulia itu? Apa jadinya jika dalam masa belajar mengajar tidak diselimuti
dengan rasa keikhlasan. Jika profesi guru dijadikan sebagai tempat tujuan
mencari uang maka itu merupakan salah besar. Lihat saja secara kasat mata lingkungan di sekitar
kita dan pemberitaan tentang dunia pendidikan yang berseliweran saat
ini. Dari sisi kualitas, selalu saja dunia pendidikan diwarnai dengan carut
marut. Ujian Nasional yang seolah menjadi polemik tanpa ujung yang muncul
setiap tahun. Kurikulum pendidikan juga selalu ada perubahan. Murid pun akhirnya
jenuh dengan perubahan-perubahan yang sejatinya menjuru pada lemahnya
pendidikan. Sehingga ilmu yang didapatkan tidak sepenuhnya bermanfaat bagi
murid.
Guru
yang ikhlas tidak hanya menorehkan pendidikan formal yang fokus pada materi
pelajaran semata, namun guru tersebut mampu menanamkan nilai-nilai moral kehidupan
sehingga bisa diterima siswa agar dapat diaplikasikan dalam dunia nyata.
Faktanya, dekadensi moral pelajar tidak bisa lagi ditoleran, kasus asusila
pelajar seperti tak pernah habis menghiasi media massa dan semakin hari semakin
memprihatinkan saja.
Belum lagi,
tawuran, anarki pelajar, bullying dan lainya. Hal itu, jelas cerminan sengkarut
dunia pendidikan dan guru sebagai salah satu peran yang harus andil bertanggung
jawab. Dalam hal inilah peran seorang pendidik sangat dibutuhkan. Pembentukan
kepribadian karakter dengan pengajaran yang didasari dengan keikhlasan tanpa
memandang seberapa besar gaji yang diterima. Namun, tidak semua guru dipandang
dengan sorotan negatif. Masih terdapat banyak guru atau pendidik yang bisa
mendapat gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Jasa akan keikhlasan mereka dalam
mengabdikan diri mengamalkan ilmunya pada generasi pahlawan masa kini yang masih
perlu ditata moralnya.
Dipicu Dasar
Keikhlasan
Pada hakikatnya setiap orang memiliki karakter yang
berbeda-beda. Kita harus yakin bahwa kita bisa membedakan mana guru yang memang
pahlawan tanpa tanda jasa, dan mana guru yang tidak layak menyandang predikat
tersebut. Karena itu, janganlah kita sekali-kali mencap sebuah profesi
sedemikian rupa. Namun, haruslah kita menilik dari individu ke individu yang
lain.
Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ini mampu disandang
oleh seorang guru yang memiliki nilai keikhlasan, kesabaran dan kepedulian.
Jadi, tergantung masing-masing guru yang bersangkutan. Apabila seorang guru
memiliki dedikasi yang tinggi terhadap dunia pendidikan Indonesia, serta tak
kenal lelah dan sepenuh hati dalam membimbing siswa, dan memiliki cita-cita
yang luhur dalam memajukan pendidikan Indonesia. Memang beliau adalah “Pahlawan
Tanpa Tanda Jasa”. Sebaliknya, jika seorang guru hanya mengajar asal-asalan dan
hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perkembangan siswa maka
dampaknnya akan kembali pada siswa sehingga guru harus kembali belajar untuk
menjadi guru yang ikhlas dalam mengajar.
Ya, hanya seorang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang
layak mendidik negeri ini. Terima kasih, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.